Google+ Followers

Thursday, March 12, 2015

Cerpen Romantis

Gerbong Kereta Senja Jogja-Surabaya

Di stasiun yang begitu padat pengunjung, aku terdesak dari pintu peron tempatku semula, begitu dahsyatnya gesekan manusia-manusia ini hingga aku jauh terbawa arus dan sempat kehilangan tas yang telah kucangklong dipundak. Beruntunglah tak lama kemudian tas merahku telah kembali digenggamanku, rupanya masih ada orang baik disekitarku yang peduli dan perhatian, tapi sayangnya aku tak sempat menyampaikan trima kasihku pada orang yang telah menyelamatkan tas kesayanganku itu karena dia telah lenyap begitu saja. “Seperti malaikat saja” Batinku, sambil tersenyum sendiri melangkah menuju peron kembali.
Kereta yang kutunggu telah tiba, aku bergegas naik menuju gerbong sesuai yang tertera pada tiket yang kupegang. Baru sampai aku pada tempat duduk yang kutuju, teriakan –teriakan dari sekitarku mengagetkanku kembali, aku sedikit tersungkur namun segera dapat menguasai diri kembali. Saat aku mulai merapikan tas ransel yang terjatuh dari punggungku, seorang nenek tua menghampiriku dan mengatakan beberapa kalimat yang sama sekali tak kumengerti, beruntunglah gadis kecil cucu sang nenek yang ternyata duduk berseberangan denganku segera menghampiriku, dan menjelaskan bahwa ada laki-laki dibelakang yang telah menyelamatkan aku dari aksi pencopet yang tadi mendorongku. Aku bersyukur ternyata aku lagi-lagi telah diselamatkan, “Trima kasih cantik” Ucapku saat gadis kecil itu berlalu.
Kulirik kursi belakang, tak nampak seorang laki-laki yang disebut gadis kecil tadi, hanya ada beberapa ibu-ibu cantik, dua anak kecil dengan dua pasang kakek nenek diseberangnya. “Ah.. mana orang yang menolongku” Gumamku dalam hati dengan sedikit rasa penasaran. Namun rasa penasaranku terkalahkan oleh lelahku, beruntung kursi disebelahku tak terisi, kucari posisi ternyaman untuk perjalanan menuju Surabaya yang pasti cukup akan melelahkan bagiku.
Masinis kereta membangunkan aku dari tidur, “Cek ticket mbak” Ucapnya. Baru kusadari ternyata ticket yang diminta ada didalam tas ransel yang kuletakkan dibagasi atas tempat duduk, dan saat aku hendak berdiri telepon genggam yang sebelumnya ada di pangkuanku terlempar ke arah belakang melewati kolong bawah bangku, begitu sial terus aku hari ini. Namum urusan dengan masinis segera kuselesaikan. Sedikit cemas aku mencari telepon genggamku dibangku belakang, khawatir terlempar jatuh sampai keluar kereta, sebab bangku yang kududuki lumayan tak jauh dari pintu belakang gerbong.
Kucoba menanyakan pada ibu yang duduk persis di belakang kursiku, namun tak sempat beliau menjawab, anak kecil yang duduk disebelahnya mengatakan kalau telepon milikku terlempar ke belakang sambil menunjuk bangku paling ujung dari gerbong yang kami naiki.” Trima kasih ya sayang” Ucapku untuk sikecil. Dengan sedikit berharap semoga hand phone itu bisa kutemukan, aku menuju bangku paling belakang gerbong. Tampak duduk seorang lelaki dengan wajah misterius dan berkaca mata hitam sedang menggenggam teleponku, “Alhamdulillah..” aku berseri menerima benda kecil itu dari tangannya. “Trima kasih banyak mas” Kataku sambil kuhafal wajahnya. Ketika aku berbalik ada suara tegas yang menahan langkahku, “Lain kali hati-hati” Ujarnya dan hanya kubalas senyum.
Kembali kunikmati hamparan sawah diujung senja sore menjelang malam. Lukisan tuhan diatas awan membentuk aurora kuning kemerahan menciptakan keindahan yang luar biasa. Kejadian-kejadian yang kualami hari ini sungguh membuat aku lebih bersyukur, hanya karena kehendak tuhan aku terbantu oleh banyak orang, hingga aku bisa selamat melalui semua kejadian yang lumayan menakutkan bagiku.
Tiba-tiba kereta berhenti disebuah stasiun yang lumayan besar, sayangnya aku belum sempat mengetahui distasiun mana keretaku berhenti kereta telah bergerak kembali. Naik turunnya penumpang di stasiun ini membuat aku harus waspada, aku tak mau kejadian-kejadian seperti yang tadi kualami terulang kembali. Sepertinya lebih banyak penumpang yang naik kegerbong kami, dari pada yang turun, sesaat gerbong ini terasa sangat sesak dan ramai, untunglah semua harus duduk sesuai nomor bangku pada ticket. Kekhawatiranku sedikit terurai saat seorang ibu menuju kearah tempat duduk disebelahku. Sayangnya tampak sebaliknya, diraut wajahnya nampak kecemasan akan putranya yang belia, yang harus duduk terpisah dengannya. Berulangkali dia menoleh kearah bangku belakang. Seingatku bangku kosong dibelakang tempat kami ini, hanyalah bangku paling belakang gerbong tempat laki-laki misterius itu duduk.
Akhirnya kuputuskan untuk mengalah dan memberi tempat untuk anak ibu yang duduk dibangku belakang agar bisa pindah disamping ibunya. Senang melihat wajah lega dari ibu tadi. Dan tanpa berlama-lama aku segera mengambil tas ransel yang ada dibagasi atas bangku kami. Masinis yang sedang memeriksa ticket baru membantuku memindahkan tas itu ke bangku belakang yang aku tuju,beruntung pula beliau mengijinkan perpindahan kami.
Lelaki berkacamata hitam itu telah menyiapkan tempat aku duduk disamping jendela, lagi-lagi aku merasa beruntung mendapat posisi duduk favoritku. Tanpa kusadari tas ransel yang tadi dibawa oleh bapak masinis sudah berada didalam bagasi, aku melirik dia sambil tersenyum. Tak banyak kata selama hampir satu jam sejak kami duduk berdua, hanya sesekali kulihat dia yang asik membaca buku hitam ditangannya, persis seperti pakaian yang dia pakai.
Sebenarnya jauh dalam hati aku merasa mengenal sosok lelaki disampingku ini, delapan tahun yang lalu terakhir aku bertemu dengan sosok yang amat mirip dengan penampilannya. Dari perawakan kecilnya, dari angkuh dan suaranya, aku merasa sangat akrab. Hingga tak terlintas sedikitpun kekhawatiranku untuk memilih duduk disebelahnya meski dia tampak misterius sejak awal. Tiba-tiba dia menoleh kearahku yang sedari tadi memperhatikannya, bergegas aku memalingkan wajahku kearah jendela. Sayangnya hanya nampak pemandangan hitam, rupanya mendung sedang menutup wajah rembulan malam ini.
Semangatku kembali saat ada penjajah minuman hangat menawarkan dagangannya, harum kopi susu yang dijajakan merayu penciumanku. Kubeli dua gelas kopi susu dari merk yang memang jadi kesukaanku. Satu gelas kuberikan untuk teman dudukku ini, dan dengan sedikit basa-basi kutanyakan apakah dia suka dengan rasa kopi susu itu. “Lumayan” Jawabnya, tanpa menolehku sama sekali. “Tapi tak senyaman kopi buatanmu pasti..,” Lanjutnya. Aku benar-benar terkejut saat mendengar kalimat yang paling panjang dia ucapkan semenjak kami bertemu sehari ini. “Buatanmu..?” Aku bertanya dengan nada yang sangat bingung, karena betul-betul tak mengerti buatan siapa yang dia maksud. Akhirnya dia memandangku dan sekali lagi mengatakan “Ya buatanmu lah..!, masa kamu nggak bisa mengartikan kata-kataku”, Ucapnya sekali lagi.
Baru kulihat jelas sekarang wajahnya, dan aku semakin yakin kalau dia adalah orang yang benar-benar aku kenal sepuluh tahun yang lalu. Tiba-tiba dia berubah jadi lumayan cerewet. “Apa aku sudah sangat berubah hingga..?” Pertanyaannya berhenti begitu saja. “Bukannya kamu berubah tapi aku hanya takut salah mengenali sebab...” Kali ini aku yang benar-benar kehilangan kata.
Kali ini aku melihat dia tersenyum sambil mengetik sesuatu ditelepon genggamnya, dan seketika itu pula teleponku juga bergetar.Tampak satu pesan muncul dari sebuah kontak nama yang telah lama tak pernah kulihat lagi dilalu lintas obrolanku. “(X)” Tanda khas milik seorang kawan yang delapan tahun ini cukup aku rindukan meski tak pernah lagi aku nantikan. Kubalas peasan itu dengan mengirim “(.)” seperti biasa saat aku menjawab pesan-pesannya seperti waktu-waktu dulu, dan telepon digenggamannyapun bergetar. Sesaat tawa kami pecah, dinginnya malam digerbong kami sudah tak terasa lagi. Cerita-cerita mengalir begitu saja dengan perdebatan-perdebatan yang cukup panjang. Persis saat dulu ketika kami masih saling berbincang, saling mengolok, bercanda, diskusi hal-hal kecil tentang puisi, novel sampai urusan negara.
Tepat pukul 22.00Wib malam itu kereta berhenti ditujuan akhir perjalanannya. Berbeda dengan saat naik, aku tak lagi bergegas turun, melainkan menunggu semua penumpang dari gerbong kami turun. Rasa takut sudah hilang, yang ada rasa cemas akan kembali berpisah dengan teman dudukku yang sedari tadi setia menjadi pelindungku dari berbagai kejadian yang menimpaku seharian.

Dengan sigap dia menenteng tanganku saat turun dari kereta. Tas ranselku aman digenggamanya. Saat kami tiba dikursi rest area dia menanyakan tujuanku setelah sampai di kota transit ini.”Langsung pulang..?” Tanya dia. Aku hanya tersenyum, aku yakin dia sudah tau tujuanku selanjutnya. Sesaat kemudian dia kembali meraih tasku, dan segera beranjak dari tempat duduk kami. Aku segera mengikuti langkahnya, dalam hati kusampaikan trima kasihku pada tuhan atas semua yang kualami sehari ini. Mudah-mudahan akan banyak kebahagiaan setelah hari ini, gumamku dengan melangkah pasti.

No comments:

Post a Comment