Google+ Followers

Tuesday, December 26, 2017

“Lembaran Jingga untuk Riana ”


Senja yang menggelayutkan warna merah pada langit sore itu, mengatar senyum Riana saat menerima sepucuk surat berwarna jingga dari tangan ayahnya. Surat yang membuat wajahnya basah dan merona. Tiga kalimat yang tak terlupa dari goresan pada kertas jingga, yang merubah sejarah hidupnya.
“ Hai bidadari pengisi relung hati, kuberanikan diri membuat permohonan pada Illahi untuk menuntun jemariku menuliskan lembar ta’aruf ini kepadamu. Karena selama ini ku hanya mampu menyapa namamu dalam doa di setiap akhir sujudku. Bilakah kau mau menjadi pengantar pintu surgaku, akan kuucapkan ijab kabul di hadapan ayahandamu.” Kalimat santun yang menggetarkan kembali hati Riana, setelah sepuluh tahun lalu malam pertama pernikahannya juga menjadi malam paling memilukan dalam hidupnya. Saat dia harus merelakan lelaki yang telah mengucapkan janji suci dan menyentuhnya penuh dengan kelembutan untuk kembali mengahadap Sang Pemilik cinta.

Senja berikutnya, wajah Riana kembali membasah menerima lembar surat yang kedua dari laki-laki yang meminta dia menjadi bidadari penghuni surga cintanya. Sang Maha Cinta telah menganugrahkan pintu surga kedua  untuknya dengan laki-laki yang hanya dia kenal lewat lembaran berwarna jingga dari sang ayah. Dan surat yang kali ini ada digenggamannya bertuliskan “Surat Nikah”.

No comments:

Post a Comment