Google+ Followers

Thursday, November 12, 2015

Untuk Hari Guru Nasional

Surat untuk guruku                                                                                         Bondowoso, 15 November 2015
Yang Saya Hormati,
Ibu Sum
Guru Kelas I (th. 1984)
Guru SDN Balunglor IV Balung-Jember

Assalamu’alaikum, wr. Wb.
                Salam hormat dan bahagia untuk ibu, berharap ibu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, amin. Mohon maaf ibu, hanya surat ini yang dapat kami tulis meski kamipun tak tau harus dialamatkan kemana, sebab kami tidak mengetahui alamat ibu saat ini. Terakhir kami dengar ibu berpindah kelain kota. Semoga lain waktu Allah memberi kesempatan untuk saya bisa bertemu dengan ibu untuk mencium tangan serta memeluk ibu untuk menyampaikan terima kasih.
 Ibu... masih teringat jelas peristiwa-peristiwa berkesan saat tangan-tangan kecil saya belum mampu dengan benar memegang pensil tulis. Bahkan ketika bel besi berdentang dan seluruh kelas di sekolah kita telah sepi, ibu masih setia menemani saya yang tak kunjung selesai menuliskan susunan abjad sederhana di buku tulis yang kumal karna keringat saya. Ibu... senyum ibu yang penuh kesabaran terkadang membuat saya gugup, keinginan saya untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas menulis itu semakin besar, namun karna gugup itu juga tulisan saya menjadi semakin tak terbaca. Saya ingat saat ibu mengusap air mata saya, saat saya melihat hasil tulisan yang sungguh jauh dari kata bagus, saya malu karena tak mampu seperti teman-teman yang lain. Tapi ibulah teman dan ibu pertama saya di luar keluarga, yang mampu menuntun saya melewati masa sulit itu.
Ibu di peringatan “Hari Guru Nasional” ijinkan saya menyampaikan penghormatan kepada ibu khususnya, dan juga kepada guru-guru tercinta lainnya. Bagi saya semua pujian tak mampu membalas semua bakti ibu pada bangsa dan negara ini, bagi saya ibu benar-benar pahlawan hati, ibu adalah pelita pertama dalam hidup saya, yang menerangi kegelapan dan ketidaktauan serta ketidakmampuan saya. Kesabaran dan ketelatenan ibu adalah tongkat penolong saya pertama dalam menapaki dan menjelajah hidup di dunia yang penuh dengan kerumitan ini.
Hari ini telah jauh berbeda dengan ± 31 tahun yang lalu, hari ini saya telah menjadi seorang guru, tepatnya saya mengikuti jejak ibu sejak 17 tahun yang lalu dan saya telah mengabdi sebagai Guru PNSD Bondowoso sejak 6 tahun ini . Saya menikmati profesi ini ibu, merasa bisa mengenang semua guru-guru hebat yang pernah mendidik saya penuh dengan cinta, semoga saya pun bisa membagi ilmu dengan cinta seperti ibu dan guru-guru yang telah mengantar saya hingga saya seperti saat ini, amin. Terakhir saya mendapat tugas sebagai Instruktur Nasional untuk materi pelajaran PPKn SMK/SMA yang saya ampu. Tugas itu menuntut saya harus mampu mentransfer pengetahuan yang terlebih dulu saya terima kepada rekan-rekan guru yang lain. Bagi saya tugas ini sangatlah berat, karena saya harus benar-benar mampu menempatkan diri dihadapan rekan-rekan guru yang usianya rata-rata  hampir sama dengan usia guru-guru saya. Namun Alhamdulillah ibu, beliau-beliau merespon saya dengan amat baik, semoga kelakpun ketika saya didampingi oleh Instruktur yang lebih junior dengan saya, saya mampu bersahaja seperti sikap beliau-beliau, amin.
Ibu sekiranya telah banyak yang kami sampaikan, mohon maaf ibu atas semua tingkah kami yang teramat merepotkan ibu. Mohon maaf karena kami belum mampu membalas pengabdian, serta ketulusan ibu. Hanya doa kami semoga Allah selalu merahmati apa yang telah ibu tunaikan dalam menjalankan tugas dan pengabdian. Semoga Allah senantiasa mencatatnya sebagai amalan jariyah, dan menjadikannya sebagai kunci pembuka pintu surga ibu kelak amin. Trima kasih ibu, salam sayang dan rindu dari muridmu yang akan berusaha menjadi insan yang mampu menjadi kebanggaanmu, bangsa dan negara ini seperti harapanmu dulu, amin.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Hormat Saya,


Murid ibu
Dyah Rembulansari, S.Pd


No comments:

Post a Comment